|
Maka Tersenyumlah…..
Siang itu udara terasa terik ketika saya harus berbelok ke salah satu SPBU untuk mengisi BBM tunggangan kesayangan saya. SPBU milik pemerintah yang dulunya kusam ini, telah berubah penampilan serba baru ditambah fasilitas mini market bagi keperluan pengunjung. Yang terpenting bagi saya adalah kondisi mesin alat ukur BBM yang kelihatan baru dan bertanda segel metrologi yang menjadi daya tarik bagi setiap pelanggan yang ingin mengisi BBM ini. Ya secara kasat mata memang mesin alat ukur ini memang terlihat baru, mudah-mudahan akurasinya pun bisa dipertanggung jawabkan karena telah tertera logo “ Pasti Pas” didepan sana. 
Selain hal itu semua yang menjadi perhatian saya adalah petugas SPBU yang mengisi ke motor saya dan pelanggan lain, adalah para gadis belia yang melayani dengan menggunakan topi merah. Terasa ada penyejuk ditengah suasana yang terik ini ketika gadis itu menekan tombol di alat ukur untuk mengisi ke motor saya tanpa mempersilahkan saya turun dari motor. Memang di SPBU ini kita bisa seenaknya duduk diatas motor tanpa turun ketika motor kita sedang diisi BBM. Tidak seperti SPBU lain yang jaraknya juga tidak jauh dari SPBU ini, saya dengan hormat harus turun dari motor ketika BBM sedang diisi ke motor saya. Standar Keselamatan benar-benar digunakan dalam pelayanannnya.
“Terima kasih” meluncur dari mulut saya setelah saya selesai menutup tangki dan memberikan uang sebagai pembayaran BBM yang diisi ke motor saya. “Ya” hanya kata singkat itu yang terucap dari gadis tadi seraya sibuk merapihkan uang kertas bertumpuk yang ada ditangannya. Saya berlalu sambil melihat ekspresi dari gadis tadi. Ah seandainya gadis itu tersenyum sebagai tanda penghormatan kepada konsumen tentu akan lebih baik lagi. Ya, satu hal yang kurang dalam pelayanan SPBU ini adalah hal itu tadi. Seandainya petugas SPBU tersebut bisa tersenyum sebagai tanda bahwa mereka menikmati pekerjaan mereka, bahkan ikhlas dalam melayani pelanggan. Senyum itu akan menjadi tanda penghargaan bagi konsumennya dalam upaya berbenah diri ditengah persaingan dengan hadirnya SPBU swasta yang memberikan nilai lebih kepada pelanggannya.
Tak terasa seminggu setelah kejadian itu saya kembali harus mengisi BBM. Setelah selesai makan siang saya berbelok kearah SPBU milik swasta dengan logo kerang itu. Ada yang berbeda ketika saya disapa oleh petugas SPBU ini. “Selamat siang pak!” sapa petugas ini. Ya tentu berbeda ketika seminggu lalu saya dilayani oleh SPBU pemerintah itu dengan seorang gadis yang menyapa “mau ngisi berapa pak?”. Berbeda bukan. SPBU yang didominasi warna kuning ini memberikan standar pelayan berbeda ketika dengan hormat mereka mempersilahkan turun dari motor pada saat pengisian bahan bakar berlangsung. “ Silahkan pak, mungkin ada yang mau dibeli di mini market kami. Kami menyediakan barang-barang kebutuhan konsumen. Atau bapak mungkin ingin mengisi air atau menambah angin, silahkan!” lanjut si petugas ini. Kalimat itu meluncur begitu saja disertai dengan senyuman yang menurut saya merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan bagi saya selaku konsumen. Saya menjawab “Ah, tidak. Lain kali aja. Terima kasih” jawab saya seraya memberikan uang untuk membayar. “ Baik pak! Ini kembaliannya. Terima kasih. Hati-hati dijalan!” Selamat siang!” Kalimat yang disertai senyuman itu terdengar sejuk dihati saya dan juga mungkin para konsumen lain. Selesai itu, Saya teringat untuk menambah angin ban motor saya dan kemudian saya berhenti pas didekat kompresor dengan tulisan angin disebelah kanan dan Air disebelah kiri itu. Saya segera turun dari motor saya ketika saya melihat salah seorang petugas SPBU pria lari dengan tergopoh-gopoh menghampiri saya. Pria itu lari karena tak ingin melihat saya mengisi sendiri angin ke ban motor saya. Suatu bentuk penghargaan yang diberikan kepada semua pelanggan baik pengendara motor maupun mobil. Tentunya bentuk penghargaan bagi konsumen seperti ini belum saya temui di SPBU lain.
Entah kenapa hal ini menjadi tulisan saya kali ini. Tapi yang jelas, konsumen akan bisa menilai kinerja pelayanan dari kedua SPBU tadi yang jaraknya nyaris berdekatan itu. Percaya atau tidak, kalau anda berkunjung ke Tangerang. Dari arah Fly over PLN Cikokol menuju arah Serpong dan Tangerang Selatan, anda akan menjumpai tiap satu kilometer sebuah SPBU. Baik milik pemerintah atau swasta. Baik bersebrangan atau beda tikungan. Baik merah, kuning, Hijau, atau merah biru. Semua itu nyaris beradu dengan pertumbuhan Mall di kota saya tercinta ini. Ya betul. Mall dan SPBU di Tangerang nyaris tiap kilometer pasti ada. Kalau mini market, anda jangan Tanya. Mini market yang target pertumbuhannya 1000 unit toko pertahun itu sudah ada tiga unit didepan kompleks rumah saya. Belum lagi dijalan lain.
Suasana ini berbeda dengan lima tahun lalu yang belum seberapa banyak pertumbuhan SPBU dan juga Mall. Berbeda dengan cerita kawan dari BKRC Malang beberapa waktu lalu yang harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer PP hanya untuk mengisi BBM di SPBU berlogo kerang itu. Apa yang mereka suguhkan ketika konsumen didaulat harus memilih menjadi pelanggan mereka? Sebagai konsumen saya berhak memilih! Bahkan harus memilih! Salah satu yang menjadi faktor saya dalam memilih produk mereka adalah bentuk penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepada konsumen. Itu menjadi dasar saya dan juga mungkin konsumen lain yang ingin memilih, ditengah maraknya persaingan dunia usaha saat ini. Sejak kecil saya diajarkan untuk berterima kasih dan menghargai orang lain. Bentuk menghargai orang lain itu adalah dengan mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Itu hal mendasar yang diajarkan baik dilingkungan keluarga ataupun sekolah. Itu menjadi suatu kekuatan bangsa ini dibandingkan dengan Negara lain. Maka tersenyum lah. Itu akan memberikan jiwa yang tenang serta menghargai hidup. Senyum itu ibadah, sekaligus nilai tambah. Terlepas dari apa yang dialami oleh petugas SPBU yang saya ceritakan diatas. Nikmatilah hidup, yang salah satunya adalah dengan tersenyum. Nikmatilah apapun profesi anda, tapi serius. Wassalam Rams DivLitbang BKRC Jakarta
|